Siti menambahkan, perpustakaan kini telah bertransformasi menjadi pusat pembelajaran sepanjang hayat, pusat inovasi, pusat literasi digital, sekaligus ruang kolaborasi bagi masyarakat, khususnya kalangan pelajar.
“Perpustakaan saat ini bukan lagi sekadar tempat menyimpan buku. Perpustakaan telah bertransformasi menjadi pusat pembelajaran sepanjang hayat, pusat inovasi, pusat literasi digital, dan ruang kolaborasi bagi masyarakat. Kami membuka seluas-luasnya kesempatan bagi para pelajar untuk menjadikan perpustakaan sebagai ruang bertumbuh, berdiskusi, berkarya, dan mengembangkan kreativitas,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya melakukan tabayun atau verifikasi terhadap setiap informasi yang diterima. Menurutnya, nilai tersebut telah diajarkan dalam Al-Qur’an melalui Surah Al-Hujurat ayat 6 yang memerintahkan umat untuk meneliti kebenaran sebuah berita sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.
Selain itu, ia mengutip hadis Rasulullah SAW, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.
” Menurutnya, pesan tersebut sangat relevan sebagai pedoman dalam bermedia sosial agar setiap unggahan maupun komentar yang disampaikan membawa manfaat dan tidak menimbulkan dampak negatif.
Siti mengajak seluruh peserta menjadikan literasi sebagai budaya dalam kehidupan sehari-hari. Ia meyakini semakin banyak membaca dan semakin bijak memanfaatkan teknologi, semakin besar peluang generasi muda menjadi sumber daya manusia unggul yang mampu berkontribusi bagi pembangunan daerah maupun nasional.
“Semakin banyak membaca, semakin luas wawasan. Semakin bijak menggunakan teknologi, semakin besar peluang kita menjadi generasi yang mampu membawa Kota Depok semakin maju dan turut mewujudkan Indonesia Emas 2045,” tandasnya.



