Ketiga, mereka menilai kepemimpinan partai lebih banyak diarahkan untuk memenuhi kepentingan pribadi daripada membangun kebesaran dan kekuatan Partai Golkar secara kelembagaan.
Keempat, sikap politik Rusli dinilai berubah-ubah dan membingungkan kader. Rusli sebelumnya disebut sempat berkeinginan maju sebagai calon Wali Kota Bogor, kemudian kembali ke DPRD, sempat dikaitkan dengan kepengurusan Golkar tingkat Jawa Barat, tetapi pada akhirnya kembali ingin mencalonkan diri sebagai Ketua DPD Golkar Kota Bogor.
“Pola kepemimpinannya seperti poco-poco, maju-mundur dan terus berubah arah. Hal tersebut membuat kader bingung serta menghambat proses regenerasi kepemimpinan di tubuh Partai Golkar Kota Bogor,” ujar salah satu peserta pertemuan. Kepada media tgl (27/7/2026).
Kelima, mereka menyoroti belum terealisasinya pembangunan kantor DPD Partai Golkar Kota Bogor sebagaimana yang pernah dijanjikan Rusli ketika terpilih menjadi ketua.
Keenam, ketiga bakal calon berpandangan bahwa persoalan kepemimpinan saat ini tidak terlepas dari proses Musda sebelumnya. Mereka menilai keterpilihan Rusli bukan merupakan hasil dukungan mayoritas pengurus kecamatan, melainkan lebih sebagai hasil kompromi atau “hadiah politik” dalam Musda.
Atas dasar itu, Heri Cahyono, Airlangga Pramada, dan Naufal Hadi sepakat membangun komunikasi serta kekuatan bersama untuk menghadirkan kepemimpinan baru yang lebih demokratis, terbuka, akomodatif, dan berorientasi pada kepentingan partai.
Meski maju sebagai calon masing-masing, ketiganya berkomitmen menjaga kebersamaan dan tidak saling menjatuhkan. Mereka juga sepakat bahwa siapa pun di antara mereka yang nantinya memperoleh dukungan terbesar harus didukung bersama untuk menghadapi Rusli Prihatevi dalam Musda.
