“Warga juga harus hati-hati. Dari sisi privasi, sekarang banyak penyalahgunaan AI untuk mengganti wajah seseorang. Keamanan data pribadi harus dipahami batas-batasnya karena hal seperti ini bisa mengundang tindak kriminalitas,” jelasnya.
Rengga menegaskan, literasi digital menjadi bekal penting agar masyarakat mampu membedakan informasi yang valid dengan konten hasil manipulasi AI. Penggunaan AI juga harus tetap menjaga identitas asli pengguna serta diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis.
“Kita harus pintar membedakan mana yang benar. Gunakan AI untuk membantu pekerjaan, tetapi jangan sampai menghilangkan citra asli kita. Yang terpenting, AI harus meningkatkan produktivitas dan daya pikir, bukan sebaliknya,” tegasnya.
Rengga turut mengajak para orang tua untuk lebih aktif mengawasi penggunaan gawai oleh anak-anak. Menurutnya, ketergantungan terhadap gadget dan AI sejak usia dini dapat berdampak pada perkembangan pendidikan, kemampuan bersosialisasi, hingga kesehatan anak apabila tidak disertai pendampingan.
“Jangan terlalu ketergantungan dengan AI maupun gadget. Bapak dan Ibu juga sampaikan kepada tetangga, anak-anak, maupun cucunya agar tidak terlalu bergantung pada gadget. Dampaknya bisa berpengaruh terhadap pendidikan, perilaku, bahkan kesehatan anak,” tandasnya.



