Keren! Remaja Bisnis Angkringan, Spesial Rasa Beda Sama Yang Lain Mau Coba Angkringan Komok !

DEPOKUPDATE.ID, SUKMAJAYA – Bisnis angkringan biasanya dimulai oleh orang dewasa, tapi tidak dengan Kedai Bamoel Angkringan Komok di bilangan Depok Timur. Pemiliknya adalah masih remaja yang gigih memulai usaha.

Dia adalah Tanti Ashari yang memilih berbisnis angkringan. Mereka masih muda, usianya saja baru 32 tahun tapi sudah punya jiwa usaha.

Angkringan ini lanjut Tanti panggilan sahatinya mengatakan, Angkringan dijalankan dengan profesional dan anak muda kekinian. Setiap hari buka. Untuk ukuran bisnis pemula, tentu ini menjanjikan.

Pemilik kedai Bamoel, Tanti Ashari (paling kiri) bersama teman-teman karyawannya

“Usaha angkringan ini terkesan sederhana tapi butuh keseriusan saat mengelolanya,” kata Tanti, di kedai angkringan jalan Merdeka Timur ujung Jln Raya Bahagia blok 6 no.12 Kelurahan Abadijaya.
Meskipun baru dibuka pada hari Jumat malam 9 September 2022, kini angkringan Kedai Bamoel atau Angkringan Komok sudah memiliki pelanggan tetap. Bahkan anak anak muda di berikan tempat yang nyaman dan kerap mampir ke angkringan ini untuk makan sekaligus menyanyi.
“Alhamudulillah, kami punya karyawan yang juga temen-teman saya seperti Rendi melayani, Arif meracik masakan dan Resti kasir, dan saya yang punya rahasia resepnya,” papar Tanti anak pertama dari Ayah Achyar dan mamanya Herlina.

Bacaan Lainnya

Seperti apa kisah pengalaman remaja pemilik angkringan komok.
Ide awalnya untuk membuka angkringan ini dimulai secara tidak sengaja. Ingin mengajak teman-teman Tanti yang nganggur belum pada kerja, tengah ngobrol santai sambil nongkrong. Tiba-tiba ada obrolan untuk membuat bisnis angkringan sebagai tempat nongkrong sekaligus menghasilkan.

“Awalnya kita ngobrol-ngobrol aja, gimana kalau kita buka angkringan. Kan menghasilkan, daripada kita nongkrong doang,” ujar Tanti yang masih berusia 33 tahun ini.

Bak gayung bersambut, beberapa teman Tanti mengiyakan ide ini. Akhirnya mereka mematangkan konsep untuk membuka angkringan. Sekaligus mencari tempat dan nama untuk angkringan mereka.

Sampai terpilih nama Angkringan Kedai Bamoel, Angkringan Komok di bilangan Depok Timur. Pemiliknya adalah masih remaja yang gigih memulai usaha. Angkringan Komok yang diambil dari nama muka, dengan muka yang berbeda beda, jadinya kita semua kalangan bisa masuk ke angkringan ini.

Modal dari hasil kerja sendiri. Untuk memulai angkringan ini, Tanti mengumpulin uang sebagai modal. Saat itu uang terkumpul dibelikan gerobak angkringan, alat masak, alat makan dan sewa tempat jualan.

Dengan modal ini berusaha menjual makanan angkringan sebanyak mungkin agar cepat balik modal, akan bikin lagi ditempat yang lain. Bahkan di awal usaha, kita rela tidak mendapatkan uang lelah demi memutar modal usaha.

Benar saja, belum satu bulan angkringan ini berjalan sudah berhasil modal. Uang yang kita kumpulkan. Bahkan kini penghasilan dari angkringan bisa untuk melengkapi tempat jualan mereka agar lebih nyaman.

Belajar masak, kata Tanti,
Karena dimulai secara otodidak, awalnya ini mengandalkan sate dan makanan dengan cara resep sendiri. Ada penjual yang khusus menyediakan menu angkringan untuk dijual kembali.

Lambat laun mulai belajar memasak. Tanti, gadis berdarah Depok ini yang kemudian mencoba memasak menu angkringan. “Yang masak saya sendiri, nanti yang nusukin sate dibantu sama yang lain. Belajarnya sendiri aja,” kata Tanti.

Kini semua menu makanan yang ada di angkringan dimasak sendiri, dengan demikian keuntungan yang didapat lebih banyak dan rasa makanan lebih terjamin.

Sehari habis ratusan tusuk sate
Di sini ada lebih dari 15 varian sate angkringan mulai dari sate usus, ati ampela, bakso, sosis, telur puyuh, ceker ayam, bakso ikan dan lain sebagainya. Selain itu juga ada nasi kucing isi ikan teri dan tempe orek.

Ada juga menu gorengan seperti tempe dan tahu goreng. Setiap menu ini dibanderol dengan harga terjangkau mulai dari Rp 2 ribu hingga Rp 5 ribu.

Dalam sehari Rian dan Dita mengaku bisa menghabiskan ratusan tusuk sate. “Pernah kita buka jam 7 (malam) tapi jam 8 sudah habis. Kita nggak mau banyak-banyak, supaya habis terus jadi selalu dimasak baru besoknya,” katanya.

Keuntungan dari angkringan ini digunakan untuk menambah modal lagi. Empat remaja ini berharap angkringannya bisa tambah laris dan ramai. (adi).