Lebih lanjut, Jeon menekankan bahwa tantangan terbesar saat ini terletak pada integrasi data agar kecerdasan buatan dapat bekerja secara optimal dan menghasilkan analisis yang akurat.
”PR-nya adalah mengintegrasikan dari semua data, supaya AI ini benar-benar powerful, bisa mengetahui semuanya data yang kita punya. Jadi enggak halu atau bisa sesuai apa yang kita ekspektasikan AI ini bisa apa,” jelasnya.
Siemens Specialist Factory Automation, Livia Lim, menjelaskan peran mereka sebagai principal dalam menyediakan infrastruktur teknologi.
”Saya meneruskan saja, jadi kebetulan karena kami sebagai principal, sebenarnya tadi produk dan solusi kami itu berupa platform yang nantinya bisa digunakan contohnya sistem integrator kami, Simenteknindo, untuk mengembangkan solusi yang tepat guna untuk customer masing-masing, seperti itu,” ujar Livia.
Ia menambahkan bahwa produk yang dihadirkan umumnya berupa kerangka dasar yang fleksibel terhadap kebutuhan tiap klien.
”Kebanyakan adalah sebuah platform, tapi kami juga punya produk jadi. Tapi produk jadi itu kami bisa bilangnya hanya berupa kerangka sih, Pak. Kerangka, jadi memang kerangka itu juga tetap harus dimasukkan atau diisi oleh data si customer. Karena kalau data yang masuk itu berbeda, hasilnya tentunya berbeda, seperti itu sih,” ucapnya.
Livia juga menekankan pentingnya peran manusia dalam mengendalikan teknologi AI.
”Jadi, pada akhirnya AI itu kan juga sebuah teknologi, tapi teknologi itu sesuatu yang tidak bisa berdiri sendiri, tetap harus ada orang yang mengoperasikan, kalau enggak setidaknya mensupervisi, seperti itu kan,” tutupnya.
Di tengah jalannya acara, para peserta diberikan akses untuk memindai kode QR pendaftaran program layanan “Klaim Audit Gratis, Smart Factory Backbone” yang diluncurkan secara daring melalui Google Forms. Program ini dirancang khusus bagi pemilik perusahaan, pengelola pabrik, dan praktisi industri yang ingin memperkuat keandalan sistem manufaktur mereka.